Cabot Gelontorkan Rp 1,3 Triliun, Tambah Kapasitas Produksi 70.000 MT

0
41

KURVA.co.id, Cilegon –  PT Cabot Indonesia berencana meningkatkan kapasitas produksi karbon hitam (black carbon) sekitar 80.000 metrik ton. Kamis, 21 November 2019 perusahaan asal Amerika tersebut melakukan ground breaking yang dihadiri oleh Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita dan Wakil Gubernur Banten Andika Hazrumy.

Proyek perluasan fasilitas produksi dengan nilai investasi sebesar Rp1,3 triliun ini ditargetkan selesai pada tahun 2021. PT Carbot adalah satu-satunya produsen rubberand khusus black carbon di Indonesia dengan kapasitas produksi 90.000 metrik ton per tahun. Artinya, dengan perluasan kapasitas produksi nantinya PMA ini akan memproduksi black carbon sebanyak 170.000 metrik ton per tahun.

Diketahui PT Cabot berkantor pusat di Boston, Massachusetts adalah produsen black carbon terbesar dan terkemuka di dunia. Produk utamanya adalah rubberand khusus karbon hitam, pewarna inkjet, oksida logam diasapi, Aerogel dan cesium cairan pengeboran.

Senior Vice President and President, Reinforcement Materials Cabot Corporation, Bart Kalkstein sebagaimana dikutip dari Tribunnews enggan mengungkap pasti besaran investasi pada perluasan pabrik tersebut.

“Kami sangat berhati-hati untuk alasan kompetitif. Jadi kami tidak akan memberikan angka yang tepat, tetapi kami menginvestasikan lebih dari 100 juta dolar AS,” tutur Bart saat acara ground breaking di Kawasan Industri Krakatau Cilegon, Banten.

Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita dalam sambutannya berharap proses perluasan kapasitas produksi Cabot dapat berjalan lancar dan cepat. “Kami juga berharap agar proyek ini lebih mengutamakan penggunaan komponen dan tenaga kerja dalam negeri,” ungkap Agus.

Wagub Banten Berharap Tumbuh Industri Hilir

Sementara Wakil Gubernur Banten, Andika Hazrumy berharap perluasan produksi PT Cabot Indonesia dapat memberikan kontribusi lebih bagi pengembangan industri ban, produk karet dan industri otomotif nasional di Indonesia. “Dengan peningkatan ketersediaan bahan baku serta penggunaan komponen dalam negeri dan diharapkan dapat mengurangi ketergantungan impor carbon black,” kata Andika.

Andika melanjutkan, dengan perluasan produksi PT Cabot Indonesia diharapkan akan memacu industri hilir serta semakin menumbuhkan kepercayaan dan persepsi dunia usaha, baik dari dalam maupun luar negeri terhadap iklim investasi di Provinsi Banten yang semakin aman, dan kondusif. 

Sektor industri di Provinsi Banten, kata Andika, merupakan sektor utama penggerak pekonomian daerah, dengan kontribusi terhadap PDRB sektor industri pengolahan tahun 2018 sebesar 31,2 %. Sesuai dengan Rencana Induk Pembangunan Industri (RPIP) Provinsi Banten 2019-2039, Banten memiliki 10 produk unggulan daerah diantaranya industri kimia, logam, alas kaki, yang juga menjadi industri unggulan nasional. 

Lebih jauh Andika menjelaskan, berdasarkan struktur penyerapan tenaga kerja pada sektor industri mencapai 33 persen, yang menandakan bahwa mata pencaharian penduduk yang ada di Provinsi Banten pada sektor ini cukup signifikan. Namun, pada sisi lain kami masih menghadapi permasalahan Tingkat Pengangguran Tebuka (TPT). 

Sebagai provinsi yang memiliki kegiatan usaha industri yang cukup besar, kata Andika, maka rencana tata ruang telah teralokasikan wilayah peruntukan industri seluas 53.945 hektare di antaranya berupa kawasan industri sebanyak 19 kawasan. Namun hingga saat ini tingkat rata-rata pemanfaatan kawasan industri masih rendah yaitu dibawah 35 persen. “Untuk itu ke depan diharapkan investasi sektor industri yang baru agar diprioritaskan untuk menempati di kawasan industri,” kata Andika. (Id/Bud)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here