Pamor Banten Pudar, Gelombang Pabrik Angkat Kaki Masih Terbuka Lebar

0
71

KURVA.co.id, Serang РGelombang  hengkangnya puluhan industri padat karya dari wilayah Provinsi Banten masih akan terus terjadi. Pamor Banten sebagai primadona investasi perlahan tapi pasti kian memudar, digantikan oleh Jawa Tengah (Jateng) yang dinilai para pengusaha, UMP Jateng sebesar Rp1,6 juta masih cukup bagus untuk kelangsungan produksi.

UMP bukan satu-satunya persoalan, sebagaimana dikutip dari cnbcindonesia bahwa aksi premanisme oknum ormas dan mafia tanah juga turut memicu hengkangnya sejumlah pabrik dan memilih Jateng sebagai tempat berlabuh.

Direktur Eksekutif Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) Firman Bakri Anom mengatakan sampai Juni 2019, sudah ada 25 pabrik alas kaki termasuk dari Tangerang, Banten hengkang ke Jateng. Alasannya utamanya upah minimum yang masih rendah di Jateng, sedangkan upah di Banten khususnya Tangerang dari tahun ke tahun makin tinggi termasuk upah minimum sektoral alas kaki.

“Berdasarkan catatan kami, ada beberapa sebab menjadi pemicu sejumlah pabrik alas kaki memilih pindah dari Banten ke Jateng. Pemicu utamanya karena upah minimum Banten yang tinggi termasuk upah sektoral alas kaki. Ada juga persoalan premanisme yang dilakukan oleh oknum ormas,” ujar Firman Bakri sebagaimana dikutip dari cnbcindonesia.com.

Firman Bakri menuturkan, sementara untuk penyebab lainnya yakni premanisme ada beberapa modus dari mulai dari pengelolaan sampah/limbah sampai rekrutmen tenaga kerja yang dikuasai oleh ormas. Ia bilang ada beberapa kasus tenaga kerja sebelum bekerja di perusahaan alas kaki, harus bayar ke preman. “Aksi premanisme ini juga cukup meresahkan bagi pengusaha,” terangnya.

Lebih jauh ia menambahkan, akan ada tambahan baru lagi investor Taiwan yang saat ini eksisting di Banten akan merelokasi pabriknya ke Jateng. Bahkan itu ada investor baru dari Taiwan yang membelokan investasinya dari Banten ke Jateng. “Kalau relokasi itu kan tidak mungkin karyawannya ikut diboyong,” katanya.

Seraya mengilustrasikan satu pabrik alas kaki bisa mempekerjakan puluhan tenaga kerja. Bahkan tak sedikit pabrik alas kaki mampu mempekerjakan karyawan mencapai 50 ribu tenaga kerja.

Sementara Kepala Disperindag Provinsi Banten, Babar Suharso membenarkan perihal hengkangnya 25 pabrik alas kaki ke provinsi tetangga. Bahkan ia menuturkan, akan ada tiga perusahaan serupa di wilayah Tangerang juga akan pindah ke Jateng pada 2020 mendatang.

“Tiga industri ini dari Tangerang, 3 perusahaan itu sudah membangun tapi masih berproses di sini. Pasti (memiliki) lebih dari 100 ribu lebih tenaga kerja,” kata Babar seperti dikutip dari detikcom.

Alasan utama industri alas kaki pindah dari Banten karena upah minimum yang tingg terutam Upah Minimum Kota/Kabupaten (UMK). Faktor lain menurut Babar adalah soal ketersediaan sumber daya yang terampil industri alas kaki. Di Banten ini dinilai kurang karena lulusan SMK industri, atau politeknik industri yang masih terbatas. Termasuk Balai Latihan Kerja (BLK) khusus industri yang spesifik pada industri sepatu dan garmen.

“Ke depan Banten harus unggul di penyediaan ini, meskipun upah relatif tinggi harus unggul dengan ketersediaan sumber daya tterlatif dan spesifik,” ujarnya.

Diketahui, upah minimum provinsi (UMP) 2019 Banten Rp 2,2 juta, sialnya justru upah minimum kabupaten/kota (UMK) 2019 yang lebih tinggi, belum lagi upah minimum sektoral alas kaki.

Kota Cilegon dan hingga Kabupaten/Kota Tangerang termasuk yang tertinggi di Indonesia. Nilainya memang masih sedikit di bawah Kota Bekasi dan Kabupaten Karawang sebagai UMK tertinggi di Indonesia yang mencapai Rp 4,2 juta pada 2019.

UMK Kota Cilegon sebesar Rp 3,91 juta, UMK Kota Tangerang sebesar Rp 3,86 juta, UMK Kabupaten Tangerang Rp 3,84 juta, Kabupaten Serang Rp 3,82 juta. Upah ini belum menghitung upah sektoral, yang angkanya lebih tinggi lagi.

Misalnya UMK di Tangerang pada 2019 mencapai Rp 3,8 juta, sedangkan upah minimum sektoral bisa mencapai Rp 4 juta untuk sektor industri alas kaki, sektor industri lain ada yang sampai Rp 4,4 juta.

Ternyata upah yang tinggi ini sejalan dengan tingkat pengangguran di Banten. Serang, sebagai ibu kota Banten menempati kota dengan pengangguran paling tinggi di Banten mencapai 10,65% dari jumlah angkatan kerja di sana.

Di posisi kedua dipegang oleh Cilegon yang merupakan kota industri, tingkat pengangguran di sana 9,68%, setelahnya ada Kabupaten Tangerang yang mencapai 8,91% yang juga kawasan industri di Banten. (Red/Bud)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here