SHARE

KURVAcoid, Jakarta – Pasar gaming di Indonesia meningkat dalam beberapa tahun terakhir, bahkan saat ini Indonesia dikatakan menjadi negara dengan pasar gaming terbesar di Asia Tenggara.

Namun, pertumbuhan pasar tersebut sayangnya tidak diimbangi dengan pertumbuhan industri gaming itu sendiri — pengembang game lokal banyak kesulitan berkembang, sebaliknya pengembang game asing menyerbu pasar Indonesia.

CEO dan co-founder Agate Studio, Arief Widhiyasa, melihat ada tiga hal yang menjadi hambatan dalam pertumbuhan industri gaming Indonesia.

“Yang pertama adalah talent, kapabilitas temen-temen di Indonesia kalau dibandingkan luar negeri kita masih punya gap, jadi perlu lebih jago lagi dalam developing,” ujar Arief ditemui usai peluncuran platform Mfun di Jakarta, kemarin.

Baca juga: Game VR karya anak bangsa bidik pasar global

Selanjutnya, menurut Arief, jumlah uang yang diinvestasikan untuk industri gaming di Indonesia masih sangat sedikit.

“Kalau misalnya saya bandingkan dengan China, itu setahunnya dia investasi sekitar 8 miliar dolar, Vietnam itu 60 juta dolar tiap tahun untuk bikin game, Indonesia itu cuman 2 juta dolar per tahun untuk bikin game, jadi sangat sedikit,” kata Arief.

Terakhir, Arief melihat jumlah perusahaan dan pengembang game yang berhasil bertahan dan tumbuh besar masih sangat sedikit.

“Di Korea ada sekitar 16 ribu game developer, Indonesia saja yang punya perusahaan itu di bawah 20. Mungkin orangnya banyak ada 1.500 tapi jumlah yang akhirnya berhasil menjadi perusahaan ada sedikit,” jelas Arief.

“Jadi, tiga ini menjadi PR bersama kita untuk ditingkatkan,” lanjut dia.

Lebih lanjut, soal talent, Arief melihat saat ini Indonesia sudah memiliki sekira belasan sekolah yang menawarkan program edukasi khusus game. Hanya saja, “ini butuh waktu karena lulusannya paling 4 tahun lagi,” ujar dia.

Sementara itu, untuk investasi, Arief mengatakan setidaknya diperlukan 10 persen dari pasar gaming di Indonesia.

“Semakin besar semakin bagus. Karena market gaming di Indonesia itu 800 juta dolar per tahun, jadi setidaknya investasinya 10 persen lah, 80 juta itu minimal, kalau enggak kita akan menjadi pasar lagi,” kata dia.

Meski Arief mengaku perusahaan miliknya masih tumbuh lebih dari dua kali lipat setiap tahunnya, pasar gaming yang tumbuh berkali lipat dalam beberapa tahun terakhir nampaknya tidak diiringi dengan pertumbuhan pengembang game. Arief melihat pengembang game di Indonesia secara keseluruhan mengalami penurunan.

Meski begitu, menurut dia, pemerintah sudah mulai melakukan banyak inisiatif untuk mengantisipasi hal ini terus berlangsung.

“Saya lihatnya dari Bekraf itu lumayan sering, dia gerak di grass root ada, bantu teman-teman developer ke luar negeri ada, dari Kominfo juga sangat membantu untuk temen-teman developer mendapat investasi,” kata Arief.

“Pemerintah sekarang dibanding 10 tahun yang lalu, lebih bagus sekarang, tapi kalau dibandingkan dengan Kanada misalnya, kayaknya lebih bagus sana. Kita masih punya PR untuk apa yang bisa dilakukan, tapi sekarang pun juga masih lebih baik.” sambung dia.

Dia berharap pemerintah dapat terus mendukung dalam konteks kebijakan, baik dari segi talent maupun investasi yang datang ke pengembang game di Indonesia, sehingga diharapkan perusahaan gaming di Indonesia akan lebih banyak.

Arief yakin bahwa lima hingga sepuluh tahun ke depan, game dari para pengembang game lokal dapat mengambil setidaknya separuh pasar dari game di Indonesia.

“Saya optimistis, kayak musik kita berhasil menguasai 90 persen pasar musik, 50 persen saja pada 10 tahun lagi itu sudah sangat bagus,” ujar Arief.

“Dan, kalau kita memprediksikan bahwa padda 2030 indonesia bakal jadi top 5 GDP, artinya pasar kita akan menjadi pasar yang lebih besar daripada Jepang,” tambah dia. (antara/ans)