SHARE

KURVAcoid, Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan menguat pada hari ini, Senin (14/1). Data neraca perdagangan sepanjang 2018 yang diperkirakan akan positif diperkirakan akan mengangkat pergerakan IHSG.

Analis BCA Sekuritas Achmad Yaki  mengatakan data neraca perdagangan yang bagus akan berdampak positif pada penurunan defisit neraca transaksi berjalan (current account deficit/CAD).

“Defisit neraca transaksi berjalan melebar di kuartal III, ada ekspektasi membaik (kuartal IV 2018),” ucap Achmad.

Diketahui, defisit transaksi berjalan membengkak pada kuartal III tahun lalu menjadi US$8,8 miliar atau 3,37 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dari US$8 miliar atau 3,02 persen terhadap PDB.

Sementara, neraca perdagangan mengalami defisit sebesar US$2,05 miliar. Defisit itu lebih tinggi dibandingkan Oktober 2018 sebesar US$1,82 miliar.

Selain ditopang rilis data neraca dagang, IHSG juga berpotensi menguat terdorong oleh penguatan rupiah. Penguatan rupiah akan semakin menarik pelaku pasar untuk bertransaksi di pasar saham. Mata uang nasional pada pekan lalu berhasil bertahan di area Rp14 ribu per dolar Amerika Serikat (AS).

Ditambah, harga sejumlah komoditas juga bangkit (rebound) beberapa hari terakhir. Pelaku pasar pun tengah menanti rilis laporan keuangan emiten sepanjang 2018.

“IHSG masih berpotensi menguat meski akan lebih berfluktuasi,” tutur Achmad.

Ia meyakini indeks bisa menembus level 6.400. Tepatnya, IHSG akan bergerak dalam rentang support 6.251 dan resistance 6.440 pada pekan ini.

Namun, Analis Reliance Sekuritas Lanjar Nafi Taulat Ibrahimsyah melihat IHSG secara teknikal sulit mempertahankan posisinya di zona hijau. Pasalnya, pasar saham Indonesia kini sudah berada di area jenuh beli (overbought).

Maklum, IHSG menembus rekor pada tahun ini dalam dua hari terakhir perdagangannya pekan lalu. Bila diakumulasi sepanjang pekan, IHSG menguat 1,39 persen ke level 6.361.

“Sehingga diperkirakan IHSG bergerak cenderung tertekan dengan support resistance 6.302-6.370,” papar Lanjar dalam risetnya. (cnn/ans)