SHARE

KURVAcoid, Jakarta – Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Ketenagakerjaan (BPJSTK) optimistis bisa menggemukkan dana kelolaan di tahun ini. Pertumbuhan dana kelolaan bakal didorong sejumlah upaya.

Direktur Utama BPJS Ketenagakerjaan Agus Susanto mengatakan, hingga tutup tahun nanti pihaknya mengincar dana kelolaan hingga Rp367,8 triliun. Jumlah ini meningkat sekitar 16% dari posisi akhir tahun lalu yang sebesar Rp317,26 triliun.

Untuk mencapai target tersebut BPJSTK akan menggenjot jumlah peserta mulai dari peningkatan kesadaran hingga menerapkan law enforcement. Hingga akhir 2017, BPJS Ketenagakerjaan memiliki peserta aktif sebanyak 26,24 juta orang. Tahun ini, BPJSTK mengejar jumlah peserta aktif hingga bisa mencapai 29,65 juta orang.

Dengan peningkatan jumlah peserta aktif ini, maka jumlah iuran yang masuk kantong BPJS Ketenagakerjaan juga diharapkan bisa meningkat. Agus menargetkan, iuran bisa meningkat sekitar 24,3% dari tahun lalu menjadi Rp64,37 triliun di tahun ini.

Selain dari peningkatan jumlah peserta dan iuran, langkah untuk memupuk dana kelolaan juga bakal dilakukan lewat pengembangan dana investasi.

Deputi Direktur Hubungan Masyarakat dan Antar Lembaga BPJS Ketenagakerjaan Irvansyah Banja Utoh mengatakan, selama tahun 2017, pengelola iuran sosial ini mencatatkan hasil investasi sebanyak Rp26,71 triliun. "Tahun ini target hasil investasi meningkat di kisaran 20% dari tahun lalu menjadi sekitar Rp32 triliun," kata Irvansyah, kemarin.

Untuk menggenjot hasil investasi di tahun ini, BPJSTK tak akan banyak melakukan perubahan portfolio investasi. Dana kelolaan BPJS Ketenagakerjaan pada tahun 2017 banyak disimpan di instrumen surat utang dengan porsi mencapai 58,70% dari total dana kelolaan Rp317,26 triliun.

Selain itu di instrumen saham dengan porsi sebesar nyaris 19% dan porsi deposito 12,46% serta reksadana sebesar 9,13%. Sisanya disimpan di properti dan penyertaan masing-masing sebesar 0,58% dan 0,13%.

Agus menyebut sepanjang bulan pertama 2018, BPJS Ketenagakerjaan sudah mengelola dana sebesar Rp321 triliun. Jumlah ini meningkat 24% secara year on year (yoy). Selain itu, jumlah peserta aktif juga sudah mencapai 26,4 juta orang. Angka tersebut meningkat sekitar 18% dari posisi Januari 2017. Adapun hasil investasi di Januari 2018 sekitar Rp4 triliun, meningkat 152%. (*)