SHARE

KURVAcoid, Jakarta – Potensi industri manufaktur masih besar. Namun ada beberapa hal yang harus dibenahi, khususnya terkait suplai bahan baku industri kimia dan barang kimia. Sebab saat ini mayoritas bahan baku dan intermediate produk masih diimpor. Pada 2017 lalu impor mencapai US$20,51 miliar atau sekitar Rp275 triliun.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartanto mengatakan, jika bahan baku bisa diproduksi di dalam negeri tentu dapat meningkatkan nilai tambah sektor ini. Sementara utilisasi produksi pada industri tekstil dan produk tekstil (TPT) juga masih belum optimal dengan rata-rata utilisasi 57,84%. 

"Potensi peningkatan ekspor masih terbuka melalui peningkatan utilisasi yang ada maupun penambahan investasi baru serta potensi peningkatan ekspor semakin terbuka jika produk TPT kita dikenakan tarif bea masuk yang sama dengan Vietnam dan Bangladesh," pungkas Airlangga saat breakfast meeting bersama pelaku Industri Kimia, Tekstil dan Aneka (IKTA), kemarin.

Kementerian Perindustrian (Kemperin) mencatat peranan sektor industri pengolahan di tahun 2017 mencapai 20,16% terhadap total Product Domestic Bruto (PDB) nasional, terbesar dibandingkan sektor lainnya.

"Sehingga menjadikan sektor Industri sebagai prime mover perekonomian nasional, sekaligus sebagai tulang punggung ketahanan ekonomi nasional dengan berbasis sumber daya lokal yang memiliki struktur keterkaitan dan kedalaman yang kuat," ujar Airlangga

"Berbagai upaya akan terus kami lakukan dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi, termasuk di sektor IKTA yang memiliki potensi dan peluang besar untuk mempercepat akselerasi pertumbuhan industri," sebut Airlangga. Oleh karena itu, di tahun 2018 ini Kemperin mengharapkan kontribusi sektor IKTA terhadap nilai investasi sebesar Rp117 triliun. (*)