SHARE

KURVAcoid, Semarang – Bisnis kuliner memang tidak ada matinya. Ragam tawaran kemitraan kerap bermunculan. Kali ini datang dari kuliner khas Meksiko asal Semarang dengan label Tacozhen.

Berdiri tahun 2015, Tachozen menawarkan kemitraan awal tahun ini. Kini ada tiga gerai Tacozhen yang berdiri, tersebar di Semarang dan Medan. “Kami restoran Meksiko lokal pertama dan menawarkan franchise syariah yang tidak memberatkan mitra,” klaim Edward, pemilik Tacozhen, belum lama ini.

Ia sendiri menawarkan dua paket waralaba, paket minimalis Rp50 juta dan paket resto (restoran) Rp300 juta. Nanti mitra bakal mendapat ragam fasilitas. Tapi biaya itu belum termasuk peralatan usaha, renovasi interior dan biaya sewa lokasi.

Khusus paket resto, mitra punya wewenang menjadi distributor bahan baku bagi mitra paket minimalis di wilayah kota masing-masing atau semacam master franchise.

Ia sendiri tidak mempersoalkan konsep gerai yang bakal dibuat mitra. Termasuk peralatan usaha yang dipakai. “Kami serahkan kepada mitra,” tandasnya.

Perbedaan paket minimalis dan resto terletak pada luas gerai dan kelengkapan menu. Ada ragam menu yang tersaji di Tacozhen. Seperti chicken taco, beef taco, vegetarian taco, nachos premium chicken, dan lainnya dengan harga Rp23.000 – Rp50.000 per porsi. “Menu Tacozhen  halal, bebas MSG dan bahan kimia, karena homemade,” tuturnya.

Bicara soal prakiraan omzet, Edward tidak memproyeksikan secara pasti, tapi ia sebut antara Rp50 juta sampai Rp80 juta per bulan untuk paket minimalis. Sedangkan paket resto pasti lebih besar lagi. Besarnya omzet itu juga tergantung dari lokasi usaha lantaran antara satu gerai dengan yang lain berbeda.

Sedangkan untuk biaya mitra, pihak pusat tidak menarik royalti. Tapi mitra wajib membeli semua bahan baku dari pusat. Meski begitu ia klaim, mitra cukup mengelurkan 5%-10% dari omzet untuk bahan baku. Sedangkan bisnis kuliner lainnya bisa 40%.

Melihat hal itu, ia optimistis mitra bisa balik modal 10 bulan sampai dua tahun. Sampai akhir tahun ini, ia menargetkan tambahan tujuh gerai lagi dan segera dibuka di Jakarta.

Ketua Umum Perhimpunan Waralaba dan Lisensi Indonesia (WALI), Levita Supit melihat bisnis kuliner ala Meksiko ini punya potensi bisnis. Terutama di kota besar yang sudah bisa menerima cita rasa ala Meksiko. Apalagi pemain di bisnis kuliner ini belum banyak.

Namun ia berharap pihak pusat mau membuka diri perihal proyeksi omzet supaya menjadi pertimbangan para investor yang sudah menanamkan  modal. “Kalau tidak menguntungkan, buat apa berbisnis,” tukasnya. (kontan/ans)