SHARE

KURVAcoid, Jakarta – Sepasang teman Nicko Batubara dan Maria Octavyani Manao (Vyani) sebenarnya telah mempunyai karier yang baik di perusahaan masing-masing. Nicko sempat memegang posisi sebagai Assistant Vice President di Citi, sedangkan Vyani bekerja di Nestle dan memiliki beberapa usaha lain.

Namun ketertarikan Nicko dan Vyani pada bidang Usaha Kecil dan Menengah (UKM) akhirnya mendorong mereka meninggalkan posisi masing-masing dan merintis sebuah startup. Sejak tahun 2016 lalu, mereka mendirikan startup di bidang logistik bernama Pakde (Paket Delivery).

“Kami memutuskan untuk mendirikan startup ini agar bisa menjadi poros pertumbuhan UKM di Indonesia, ya mudah-mudahan dapat untung juga. Kami pun meninggalkan karier kami karena percaya Pakde memiliki potensi yang besar di Indonesia, bahkan ASEAN,” ujar Nicko, beberapa waktu lalu.

Pakde merupakan startup yang menghadirkan solusi end-to-end untuk para penjual online dalam mengelola produk masing-masing. Mulai dari manajemen stok hingga pergudangan, semuanya bisa dilakukan oleh startup logistik ini.

Karyawan Pakde tengah mengirim barang ke konsumen mitra UKM.

Secara umum, Pakde memiliki tiga layanan utama. Pertama, menerima dan memeriksa barang yang kamu kirimkan ke gudang (inbound). Setiap produk akan diberikan tag dan datanya dimasukkan ke akun kamu yang ada di platform Pakde.

Kedua, menyediakan gudang penyimpanan sampai barang yang kamu miliki terjual. Untuk layanan ini, kamu harus membayar sesuai ukuran barang. Produk lipstik dan kosmetik misalnya akan dikenakan biaya Rp10 per hari untuk setiap barang, sedangkan untuk produk kaos bisa dikenakan Rp50 per hari.

Dan ketiga, apabila ada pembeli yang memesan barang, Pakde akan mengemas dan mengirimkannya langsung ke pembeli tersebut (outbound).

Saat ini Pakde mengaku telah ada lebih dari tiga puluh UKM yang menggunakan jasanya. Mayoritas merupakan produsen pakaian lokal, seperti Alsjeblief, Shipyard, dan MORAL. Setiap bulan, mereka bisa melakukan hingga 3.500 pengiriman barang.

Salah satu founder Pakde, Vyani, menuturkan bahwa mereka kerap bertukar pengalaman dengan para mitranya. Sehingga mereka dapat mengembangkan bisnis ini sesuai dengan kebutuhan mitra, dan sebaliknya mitra juga mendapat pandangan dari tim Pakde.

“Kami juga bertukar ilmu dengan penjual online tersebut. Sehingga kami bisa mengembangkan bisnis sesuai kebutuhan mereka, dan para penjual tersebut juga bisa mendapatkan pandangan baru dari kami,” tutur Vyani.

Untuk menyimpan barang milik para pelanggan, Pakde telah mempunyai gudang di daerah Kelapa Dua, Depok. Pada akhir Mei 2018 ini, mereka juga berencana membuka gudang kedua di Bandung.

Sepanjang tahun 2017, Nicko mengaku telah mengeluarkan dana sebesar US$200.000 (sekitar Rp2,7 miliar) dari angel investor Pakde, yaitu Rocky Pesik. Pada tahun 2018, Pakde berencana mengeluarkan uang US$1 juta (sekitar Rp13,8 miliar) untuk pembukaan gudang baru di beberapa kota, dan mengembangkan armada pengantaran barang (last mile delivery).

Saat ini Pakde telah memiliki 22 orang karyawan yang mayoritas bertugas melayani para klien. Mereka mengaku sempat menghadapi kesulitan untuk mengenali produk dari tiap klien karena berjumlah banyak dan sangat bervariasi. Problem itu mereka selesaikan dengan mengembangkan Warehouse Management System yang telah rampung pada April 2018.

Di Indonesia telah ada beberapa perusahaan yang menghadirkan layanan serupa, mulai dari Crewdible, Waresix, Iruna, aCommerce, hingga 8Commerce. (techinasia/ans)