SHARE

KURVAcoid, Jakarta – Banyaknya startup traveling di tanah air rupanya tak menghentikan langkah pelaku startup untuk terus mengeksplorasi industri ini. Salah satu konsep yang bisa dieksplor lebih lanjut adalah portal khusus kebutuhan flash sale, seperti yang dilakukan MG Group (induk perusahaan dari RajaKamar.com) lewat produk bernama Lalalaway. Startup ini dinahkodai oleh Audrey Marc, seorang ekspat berwarganegaraan Perancis.

Mengklaim dirinya sebagai sebagai portal penjualan paling ekonomis untuk kategori hotel mewah, Lalalaway menawarkan beragam pilihan hotel bintang empat dan lima dengan tarif terbaik melalui konsep flash sale.

Menurut Marc, bisnis OTA berkonsep flash sale bukanlah hal baru bagi pecinta traveling di luar negeri. Layanan semacam ini sempat booming di Eropa serta Australia. Berbekal pengalaman sebagai manajer sekaligus konsultan di bidang hospitality, Marc pun resmi mengoperasikan Lalalaway pada bulan Maret 2018.

“Saya sebelumnya bekerja di layanan dengan konsep serupa di Prancis selama tiga tahun dan saat itu layanan ini begitu populer di Eropa. Setelah beberapa minggu di Indonesia, Grup MG dan saya melihat bahwa konsep itu tidak ada di sini, sehingga kami memutuskan untuk mengambil kesempatan dan memulai proyek ini,” ungkap Marc yang telah bergabung dengan Grup MG sejak April 2017 silam.

Tampilan website Lalalaway.

Marc menjelaskan bahwa nama Lalalaway sendiri diambil dari penggabungan kalimat ekspresif “lalala” yang diartikan sebagai perasaan senang seseorang, dengan kalimat “away” yang berarti pergi jauh.

“Jadi terjemahan dasar dari lalalaway adalah Lalala-away , sederhana memang namun begitu menarik,” jelas Marc, beberapa waktu lalu.

Meski belum banyak pelaku OTA yang mengembangkan konsep flash sale, Lalalaway tetap menemui tantangan di awal masa pendiriannya.

“Memulai dari situs web untuk mengakomodasi kebutuhan konsumen traveling B2C jelas merupakan tantangan yang besar. Kami perlu menciptakan awareness Lalalaway agar orang dapat mengenal dan mulai mengunjungi situs web kami,” jelas Marc.

Untuk itu, pihaknya baru-baru ini mulai melakukan pemasaran awal dengan menggaet influencer seperti travel blogger, kreator konten, dan lain-lain.

Deal eksklusif selama empat belas hari

Penawaran hotel yang diberikan Lalalaway hanya berlangsung selama 14 hari. Hal tersebut dilakukan untuk memberikan pengalaman deal eksklusif yang membedakan Lalalaway dengan kompetitornya. Di samping itu, pola penawaran eksklusif ini juga sejalan metode pemasaran FOMO yang kerap dijalankan pelaku bisnis (seperti OTA) untuk menggaet minat kaum millennial.

Diungkapkan Marc, munculnya kelas menengah dari generasi millennial yang melek teknologi dan gemar mengakses media sosial membuat permintaan untuk kemewahan yang terjangkau semakin meningkat. Dibukanya sejumlah hotel mewah di Indonesia dalam beberapa bulan mendatang merupakan upaya untuk memenuhi permintaan tersebut, oleh karenanya, Lalalaway hadir di sini untuk turut melayani kebutuhan ini.

Untuk mengakomodasi keinginan para traveler, Lalalaway mengutamakan kemudahan memesan melalui platform mereka, baik melalui halaman situs web desktop maupun lewat browser mobile.

Beberapa startup lain seperti Tiket.com, Ezytravel, Traveloka, dan lainnya juga menghadirkan penawaran harga khusus, meskipun layanan yang mereka hadirkan identik dengan konsep OTA pada umumnya.

Dalam pengoperasiannya, Lalalaway mengandalkan seed funding yang diperoleh dari MG Group. Walau tidak disebutkan secara rinci, namun Marc mengklaim bahwa Lalalaway telah mengalami perkembangan jumlah user yang cukup signifikan dan saat ini sedang berada di arah yang tepat untuk menjangkau target pengguna hingga 200.000 orang pada akhir tahun 2018. (techinasia)