SHARE

KURVAcoid, Jakarta – Selama tiga dasawarsa terakhir, 2018 merupakan tahun yang paling menantang bagi perekonomian Indonesia. Guncangan demi guncangan global secara bertubi-tubi mendera ekonomi Indonesia.

Hal ini terlihat dari besarnya tekanan yang tanpa jeda menghantam nilai tukar rupiah sepanjang 2018. Bank Indonesia (BI) sebagai garda terdepan penjaga stabilitas perekonomian, tampaknya tidak pernah pernah lelah terus berjuang sampai penutupan akhir tahun.

Bank sentral melalui jajarannya selalu siaga berada di pasar merespons setiap tekanan, serta melakukan berbagai inovasi untuk memastikan kepercayaan pasar agar rupiah tetap terjaga.

Baru saja tahun 2017 pasar obligasi negara dibanjiri arus modal asing yang mencapai Rp170 triliun, memasuki lembaran baru 2018 modal tersebut mulai kembali berbalik ke luar. Pasalnya, ekonomi Amerika Serikat (AS) ternyata semakin solid.

Ini memicu spekulasi bank sentral AS Federal Reserve akan kembali menaikkan suku bunganya sebesar 25 bps. Di Februari 2018 investor asing pun bergegas menarik kembali modal dari pasar saham dan Surat Berharga Negara (SBN).

Dalam rapat komite kebijakan moneter, The Fed terbukti menaikkan suku bunga dari 1.50 persen menjadi 1.75 persen.

Rupiah pun bersama mata uang lain di seluruh dunia terseret tekanan dolar AS. Tekanan tidak berhenti di sini.

Presiden AS Donald Trump lewat segenap aksinya mengancam mengenakan sanksi ke Iran lantaran tidak terbukti menghentikan proyek nuklir, serta menekan Korea Utara untuk segera menghentikan proyek nuklirnya.

Karena merasa percaya diri dengan ekonomi AS yang semakin kuat, Trump juga mulai mengibarkan perang dagang dengan China. Memanasnya suhu geopolitik dan perang dagang menyebabkan investor memburu dolar, menekan rupiah.

Selama April 2018 diduga Bank Indonesia bekerja sangat keras menjaga rupiah dengan intervensi yang gencar di pasar spot agar mata uang Garuda ini tidak terseret tajam.

Namun laju ekonomi AS tidak terbendung. Memasuki Mei 2018, tingkat pengangguran AS terus menurun ke tingkat terendah 3,9 persen dan inflasi mulai meningkat. Ini memperkuat keyakinan pasar bahwa The Fed akan semakin kencang menaikkan suku bunga.

Di belahan benua lain, justru diselimuti awan mendung. Di Eropa, situasi politik Italia memanas pasca-kemenangan partai sayap kiri, sementara perundingan Brexit nyaris mengalami kebuntuan, dan nilai tukar lira Turki merosot sekitar 5 persen dipicu pelarian modal asing. Merosotnya mata uang Turki menular ke seluruh mata uang negara berkembang termasuk rupiah.

Kembali lagi, Bank Indonesia diduga menjaga rupiah habis-habisan, bahkan berhasil menggiring rupiah kembali menguat selama awal Juni, dari yang sempat melemah ke Rp14.250/US$ kembali ke Rp13.900/US$.

Selanjutnya: Sepanjang 2018, BI alami berbagai tantangan jaga rupiah (2-habis)