SHARE

KURVAcoid, Jakarta – Nilai tukar rupiah berada di posisi Rp15.203 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pasar spot Kamis (1/11) pagi. Posisi tersebut tak bergerak dari Rabu (31/10) sore.

Nasib rupiah berbeda dengan mayoritas mata uang Asia yang justru bergerak di zona hijau. Dolar Singapura menguat 0,15 persen, peso Filipina 0,15 persen, baht Thailand 0,13 persen, dan yen Jepang 0,13 persen.

Namun, beberapa mata uang lainnya justru berada di zona merah. Dolar Hong Kong melemah 0,02 persen, won Korea Selatan minus 0,02 persen, dan ringgit Malaysia minus 0,01 persen.

Sementara mata uang utama negara maju kompak menguat dari dolar AS. Poundsterling Inggris menguat 0,61 persen dolar Australia 0,47 persen, rubel Rusia 0,19 persen, euro Eropa 0,19 persen, franc Swiss 0,13 persen, dan dolar Kanada 0,1 persen.

Analis CSA Research Institute Reza Priyambada memperkirakan pergerakan rupiah hari ini akan cenderung mendatar (sideways). Artinya, sekalipun rupiah menguat atau melemah, pergerakannya tidak akan terlampau signifikan dibanding hari sebelumnya.

Berdasarkan sentimen, Reza bilang potensi penguatan rupiah berasal dari pengesahan Rancangan Undang-Undang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RUU APBN) 2019 menjadi UU. Dalam APBN 2019, asumsi makro kurs rupiah sebesar Rp15.000 per dolar AS diterima oleh mayoritas anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).

Potensi penguatan juga datang dari pernyataan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati yang bilang pemerintah akan terus berhati-hati mengelola APBN, meski tekanan dari eksternal diperkirakan akan tetap memberi pengaruh besar pada pengelolaan anggaran dan pertumbuhan ekonomi Indonesia.

“Sentimen dari dalam negeri ini cukup membantu penguatan rupiah. Diharapkan kenaikan bisa kembali berlanjut pada hari ini,” ujar Reza, Kamis (1/11).

Selain itu, kecenderungan penguatan rupiah hari ini bisa datang dari rilis Indeks Harga Konsumen (IHK) oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Sebab, pasar berekspektasi bahwa inflasi IHK masih cukup rendah secara kumulatif.

Sementara sentimen yang bisa memberi pengaruh pelemahan pada rupiah, yaitu meningkatkan kisaran imbal hasil (yield) surat utang AS atau US Treasury. “Ada juga imbas dari stagnannya pergerakan yen Jepang setelah Bank of Japan masih mempertahankan kebijakan moneternya,” pungkasnya. (cnn/ans)