SHARE

KURVAcoid, Jakarta – Nilai tukar rupiah yang melemah sejak awal tahun hingga saat ini membuat permintaan kredit valuta asing (valas) melempem. Tengok saja, Statistik Perbankan Indonesia milik Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat penyaluran kredit valas relatif stagnan atau 0,04 persen menjadi Rp700,49 triliun pada April 2018 dibandingkan bulan sebelumnya.

Maklumlah, rupiah menukik hingga Rp14.350-an per dolar AS atau naik 5,89 persen sejak awal tahun ini. Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Piter Abdullah menyebut sudah barang pasti dolar menjadi lebih mahal.

Di sisi lain, bank juga akan lebih selektif dalam menebar kredit valasnya kepada debitur. Alasannya, pasokan dolar sedang tak berlimpah. Selain itu, harga dolar yang mahal berpotensi menimbulkan risiko kredit bermasalah (Nonperforming Loan/NPL) baru.

“Bank akan lebih selektif. Jadi, tidak ada tambahan kredit (valas) baru,” ujar Piter di Jakarta, Selasa (10/7).

Importir, lanjutnya, juga akan berpikir ulang untuk mengambil kredit valas dari bank. Bahkan, importir cenderung menahan impor untuk dijadwalkan ulang di masa depan.

“Bahkan, kalau bisa ditahan dan diatur lagi, mereka pasti lakukan. Karena ini akan menimbulkan kerugian, pengusaha tentu tak mau rugi,” terang Piter.

Apalagi, saat ini industri perbankan dihadapkan dengan ancaman kenaikan bunga kredit sebagai dampak dari kenaikan bunga acuan Bank Indonesia (BI). Seperti diketahui, BI mengerek bunga acuannya 100 basis poin menjadi 5,25 dalam dua bulan terakhir ini.

Kombinasi tekanan rupiah dan kenaikan bunga acuan, menurut Piter, akan mempercepat kenaikan bunga kredit di bank. Skema lindung nilai (hedging) pun dianggap tidak ampuh lagi untuk menekan risiko dari penguatan dolar.

Pasalnya, dengan besarnya risiko nilai tukar saat ini, di tengah kondisi global yang tak pasti tentunya premi hedging juga meningkat. Hal ini membuat perusahaan tetap akan mengeluarkan biaya lebih atas transaksi valas yang dilakukan.

Piter memproyeksi pertumbuhan kredit valas bank akan tetap melambat sampai akhir tahun nanti. Bahkan, pertumbuhannya akan jauh tertinggal oleh penyaluran kredit berdenominasi rupiah.

Direktur Utama PT Bank Central Asia Tbk Jahja Setiaatmadja mengaku akan lebih selektif menyalurkan kredit valas. Perseroan bahkan tak akan segan-segan menyetop penyaluran kredit valas kepada debitur di sektor tertentu agar tak menimbulkan risiko NPL baru.

“Bagi yang berbasis impor, kalau kami tidak kasih, biar mereka meminta pun tetap ‘no’ (tidak),” tegas dia.

Berbeda dengan BCA, PT Bank Mayapada International Tbk menyebut masih akan membuka keran penyaluran kredit valas. Dengan catatan, bank benar-benar tahu bahwa bisnis dan arus kas debitur yang bersangkutan mumpuni untuk mengembalikan kreditnya.

“Kami tidak menolak kredit, baik itu rupiah maupun valas, sepanjang memang usahanya layak dibiayai dan pengembalian memang ada, serta reputasi pengurus maupun pemegang sahamnya sangat baik,” tandas Direktur Utama Bank Mayapada Haryono Tjahjarijadi. (cnn/ans)