SHARE

KURVAcoid, Lebak – Petani Kabupaten Lebak diminta meningkatkan produksi palawija karena dapat menyumbangkan ekonomi daerah juga kedaulatan pangan nasional.

“Produksi palawija tahun 2018 sebanyak 62.462 ton dinilai belum optimal,” kata Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Lebak Dede Supriatna di Lebak, kemarin.

Produksi palawija di Kabupaten Lebak perlu digenjot baik produksi maupun produktivitas.

Padahal, potensi lahan cukup luas dan bisa mewujudkan swasembada pangan.

Saat ini, kata dia, prospek budi daya tanaman palawija cukup menjanjikan karena permintaan pasar cenderung meningkat.

Bahkan, banyak konsumen dari luar daerah siap menampung komoditas palawija.

Namun, produksi palawija di Kabupaten Lebak belum dijadikan andalan usaha petani.

Mereka petani kebanyakan mengembangkan palawija hanya dijadikan usaha sampingan.

“Kami berharap ke depan usaha pertanian palawija dapat dijadikan usaha andalan ekonomi petani,” katanya.

Menurut dia, pihaknya juga mengapresiasi produksi palawija tahun 2018 mencapai 62.462 ton dengan panen seluas 15.277 hektare terdiri dari enam komoditas.

Antara lain jagung 27.88 ton, kedelai 3.833 ton, kacang tanah 340 ton, kacang hijau 7 ton, ubi kayu 26.143 ton, dan ubi jalar 5.052 ton.

Pemerintah daerah mendorong petani agar meningkatkan produksi palawija melalui bantuan penyaluran benih unggul berserifikat juga pupuk.

Penyaluran bantuan itu diharapkan petani dapat menggeluti usaha pertanian palawija, karena menjanjikan kesejahteraan petani.

“Kami ke depan menargetkan produksi palawija bisa memenuhi pasar lokal dan didatangkan dari petani Lebak sendiri,” ujarnya.

Sejumlah petani di Kecamatan Cibadak, Kabupaten Lebak, mengaku mulai mengembangkan tanaman jagung untuk memenuhi permintaan pasar lokal.

“Jika jagung itu dipanen maka kami memasoknya ke pasar Rangkasbitung,” kata Nanil (45), seorang petani Desa Margaluyu, Kecamatan Cibadak, Kabupaten Lebak. (antara/ans)