SHARE

KURVAcoid, Jakarta – Asosiasi pengusaha ritel Indonesia (Aprindo) melaporkan adanya perlambatan penjualan ritel selama tiga bulan pertama 2018. Meski belum memiliki data yang akurat, Ketua Umum Aprindo Roy Mandey, mengatakan lemahnya penjualan ritel di awal tahun ini merupakan imbas dari kondisi di tahun sebelumnya.

“Kita lihat di Januari memang masih rendah. Biasanya akibat penjualan di Desembernya rendah. Kalau Desember rendah, Januari dan Februari juga rendah,” kata Roy, belum lama ini.

Aprindo sendiri mencatat, pertumbuhan ritel sepanjang 2017 lalu hanya mencapai 3,65 persen. Angka tersebut merupakan yang terendah selama 10 tahun terakhir.

Kendati ada perlambatan, Roy tetap optimistis industri ritel dapat tumbuh lebih baik di tahun ini. “Harapan kita bisa 5-7 persen lah.”

Untuk mencapai target pertumbuhan itu, ia mengatakan, peritel harus melakukan inovasi bisnis. Salah satu bentuk inovasi bisnis yang saat ini sudah mulai dilakukan pengusaha, menurut Roy, yakni dengan membuat pusat belanja terpadu.

Supermarket tidak lagi hanya menjadi tempat untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari, tapi juga dilengkapi dengan pusat kuliner, bioskop hingga taman bermain.

“Ini konsep yang akan berkembang, jadi ada pusat leisure yang terpadu,” ujarnya.

Selain itu, inovasi lain yang juga harus dilakukan peritel yakni masuk ke bisnis online. Menurut Roy, peritel mau tidak mau harus menyediakan platform belanja online mengingat saat ini tren belanja di masyarakat sudah mulai bergeser. (republika/ans)