SHARE

KURVAcoid, Jakarta – Menteri Koordinator bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan kenaikan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di perdesaan bukan karena penggunaan dana desa tak berjalan efektif.

Darmin mengatakan Program Padat Karya (Cash for Work) yang berasal dari dana desa sejatinya menambah lapangan kerja bagi masyarakat desa, khususnya infrastruktur. Hanya saja, pekerjaan infrastruktur membutuhkan waktu panjang, sehingga penyerapan tenaga kerjanya pun terjadi secara perlahan.

“Pekerjaan melalui infrastruktur memang tidak instan, perlu waktu, dan itu juga tergantung infrastruktur yang dikembangkan,” jelas Darmin, Selasa (6/11).

Bahkan, ia bercermin pada data Badan Pusat Statistik (BPS) yang menunjukkan pekerja pertanian di desa yang kian menyusut. Per Agustus, pekerja di sektor pertanian tercatat 35,7 juta orang atau 28,79 persen dari jumlah penduduk bekerja 124,01 juta jiwa. Sementara tahun lalu, jumlah pekerja sektor pertanian di angka 35,9 juta orang atau 29,68 persen dari jumlah penduduk bekerja 121,02 juta orang.

Darmin menduga hal ini ada kaitannya dengan jumlah lahan sawah yang ikut menyusut. Sesuai penyempurnaan data produksi beras yang dilakukan BPS, saat ini luas lahan sawah baku tercatat 71 juta hektare (ha) atau berkurang 6,5 juta ha dibanding data pada akhir 2013 yakni 77,5 juta ha.

Melihat hal tersebut, ia semakin yakin bahwa dana desa bisa menjadi solusi penurunan tingkat pengangguran desa. Apalagi, jenis pekerjaan dalam cash for work hanya menyentuh infrastruktur, bukan pertanian.

“Tapi mungkin secara keseluruhan, (ada masalah) yang lebih dari itu. Makanya ada dana desa yang sebetulnya membantu memperbaiki banyak hal, termasuk pekerjaan,” jelas dia.

Sebelumnya, Kepala BPS Suhariyanto menuturkan kenaikan tingkat pengangguran di desa disebabkan karena pekerja sektor pertanian ingin mencari penghidupan yang lebih layak, sehingga mereka memutuskan untuk berhenti bertani.

Hanya saja, lanjut dia, nasib mereka kadang belum terlihat mujur. Ada yang berhasil mendapat pekerjaan baru, namun ada juga yang perlu bersabar.

“Fenomena ini sebetulnya wajar. Kalau ada transformasi ekonomi, seharusnya tenaga kerja pertanian ini berkurang. Tapi ini memberatkan perekonomian,” kata Suhariyanto.

BPS mencatat TPT per Agustus kemarin di angka 5,34 persen atau membaik dari posisi yang sama tahun lalu 5,5 persen. Penurunan ini terjadi di tengah kenaikan angkatan kerja dari 128,06 juta orang menjadi 131,01 juta orang per Agustus kemarin. Artinya, penyerapan tenaga kerja memang berbanding lurus dengan pertambahan jumlah tenaga kerja.

Hanya saja, tingkat pengangguran di desa Agustus kemarin ada di angka 4,04 persen atau naik dari posisi yang sama tahun lalu 4,01 persen. Sementara itu, tingkat pengangguran di kota turun dari 6,79 persen menjadi 6,45 persen. (cnn/ans)