SHARE

KURVAcoid, Jakarta – Pertumbuhan ekonomi hingga akhir tahun diprediksi masih sulit untuk menyentuh 5,2 persen, seperti harapan pemerintah. Sebab, masih banyak risiko yang perlu dihadapi Indonesia di kuartal IV mendatang.

Direktur Riset Center of Reform On Economics (CORE) Mohammad Faisal menjabarkan Indonesia diperkirakan masih akan mengalami tekanan pada komponen ekspor netto, sama seperti yang terjadi pada kuartal III kemarin. Pada kuartal lalu, pertumbuhan ekspor sebesar 7,52 persen ternyata kalah dibanding pertumbuhan impornya yakni 14,06 persen.

“Mungkin pertumbuhan ekonomi hingga akhir tahun bisa hampir mencapai 5,2 persen, tapi mungkin tidak benar-benar menyentuh 5,2 persen,” jelas Faisal, kemarin.

Selain itu, ia mengatakan bahwa risiko perlambatan investasi dan konsumsi masih akan terasa sebagai imbas dari pengetatan kebijakan moneter Bank Indonesia (BI) yang mengerek suku bunga acuan BI 7 Days Reverse Repo Rate sebesar 150 basis poin pada tahun ini. Kenaikan suku bunga acuan BI akan menyebabkan orang menahan konsumsi dan bikin dunia usaha tidak leluasa dalam melakukan ekspansi.

Tak hanya itu, ada ekspektasi bahwa harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi akan disesuaikan di kuartal ini. Dengan demikian, maka angka inflasi akan terkerek dan otomatis mempengaruhi daya beli. Padahal, inflasi hingga kuartal III kemarin sudah mencapai 2,88 persen, atau di bawah target pemerintah 3,5 persen.

“Ini hasilnya membuat pertumbuhan kuartal IV paling tidak jauh-jauh dari angka 5,17 persen. Indonesia tak boleh terus-terus berada di kisaran 5 persen, karena nanti akan terperangkap ke dalam jebakan negara kelas menengah (middle income trap),” imbuh dia.

Sementara itu, Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira Adhinegara mengatakan pertumbuhan ekonomi di kuartal IV akan berada di kisaran 5,1 persen. Dengan demikian, pertumbuhan ekonomi sepanjang tahun ini diramal hanya mampu mencapai 5,15 persen.

Menurut dia, ada beberapa catatan dari angka pertumbuhan kuartal III yang perlu dikritisi. Pertama, momentum Asian Games yang terjadi Agustus lalu tak bisa mendorong konsumsi seperti harapan. Pertumbuhan konsumsi di kuartal III bahkan hanya mencapai 5,01 persen atau melambat dibanding kuartal sebelumnya 5,14 persen.

“Konsumsi ini perlu jadi perhatian utama karena porsinya 55,26 persen atau menurun dibanding kuartal III 2017 yakni 55,73 persen. Padahal di kuartal III ada momentum Asian Games, tetapi ternyata daya dorong ke konsumsinya tidak besar dan hanya berefek lokal di Jakarta dan Palembang,” jelas dia.

Pelemahan konsumsi ini pun diprediksi akan berlanjut seiring tekanan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), kenaikan bunga kredit, dan ekspektasi kenaikan harga BBM non subsidi. Jika pemerintah ingin mencapai pertumbuhan ekonomi dalam jangka pendek, maka konsumsi harus jadi kunci utama lantaran pengaruhnya cukup kuat terhadap PDB.

“Masyarakat harus kembali konsumsi sehingga ekonomi tumbuh lebih tinggi lagi,” papar dia.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi kuartal III di angka 5,17 persen atau membaik dibanding periode sama tahun lalu 5,07 persen. Namun, angka ini melemah dibandingkan kuartal II yang mencapai 5,27 persen. (cnn/ans)