SHARE

KURVAcoid, Jakarta – Perekonomian dalam negeri yang bergerak melandai di tahun lalu cukup berimbas pada kinerja asuransi umum. Sejumlah pelaku mengaku target premi belum mencapai angka maksimal.

Misalnya, hal sama terjadi pada PT Asuransi Central Asia (ACA). Branch Operational Director ACA Debie Wijaya mengatakan, hingga akhir Desember 2017 lalu, perusahaan merealisasikan premi 83% atau sekitar Rp2,74 triliun dari target semula.

Sekadar diketahui, ACA mengincar premi sebesar Rp3,3 triliun di 2017 atau meningkat 10% dibanding pencapaian 2016 lalu yakni Rp3 triliun.

"Pencapaian premi kami memang belum maksimal karena ekonomi masih lesu tahun lalu," ujar Debie, kemarin.

Meski demikian, ACA lebih optimistis menatap tahun ini. Debie memproyeksikan pertumbuhan premi di tahun ini sebesar 10% dari realisasi tahun lalu. "Kami tetap fokus menggarap sumber-sumber bisnis yang ada dan potensi pengembangannya," tambah Debie.

Senada, PT Asuransi Binagriya Upakara pun melaporkan jumlah premi yang belum menyentuh target awal yakni Rp155 miliar. Direktur Utama Binagriya Upakara Dadang Sukresna memperkirakan, realisasi premi sampai akhir Desember 2017 lalu sebesar 90% dari target tersebut.

Menurut Dadang, faktor belum tumbuh kencangnya premi perusahaan di 2017 lantaran adanya beberapa penutupan korporasi yang tidak diperpanjang lagi. Plus, dilepaskannya produk asuransi marine hull pada tahun lalu.

"Kami lepaskan produk marine hull karena kondisi renewal-nya tidak sesuai dengan keinginan perusahaan," kata Dadang.

Di 2018, Dadang memprediksi pertumbuhan premi sekitar 15% dari pencapaian tahun lalu. Jumlah agen yang meningkat cukup besar di 2017 diharapkan memberikan produksi di tahun 2018. Hingga akhir 2017, agen Binagriya diperkirakan mencapai 900 orang. "Selain itu kami genjot jalur distribusi bancassurance," kata Dadang

Pun demikian dengan PT Asuransi Wahana Tata (Aswata). Direktur Utama Aswata Christian Wanandi mengatakan, premi perusahaan di akhir 2017 belum mencapai target sebesar Rp2,1 triliun. Namun, Christian masih belum bisa memberikan detail realisasi premi tersebut.

"Yang pasti target tidak tercapai karena faktor bisnis secara prudent," ujar Christian. (*)