SHARE

KURVAcoid, Jakarta – Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diramalkan masih melemah pada awal pekan ini, Senin (21/5), seiring aksi pelaku pasar yang masih menahan diri sembari melihat pergerakan ke depan (wait and see).

Analis Phintraco Sekuritas Valdy Kurniawan menyatakan beberapa sentimen negatif pada pekan lalu masih akan menghambat laju IHSG hari ini. Salah satu sentimen tersebut, yakni pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Pada akhir pekan lalu, Jumat (18/5), rupiah turun 98 poin atau 0,7 persen di level Rp14.156 per dolar AS.

“Jadi mungkin hari Senin masih seperti hari Jumat ya pergerakannya,” ucap Valdy, Senin (21/5).

Selain rupiah, data neraca perdagangan yang defisit pada April 2018 juga masih menjadi sentimen negatif bagi laju IHSG. Seperti diberitakan sebelumnya, neraca perdagangan April 2018 tercatat defisit hingga US$1,63 miliar.

“Jadi pelaku pasar masih mencerna data neraca perdagangan, rupiah, dan hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (BI) yang menaikkan suku bunga acuan 25 basis poin,” jelas Valdy.

Maka itu, ia memprediksi IHSG bergerak terbatas pada awal pekan ini. Ia memperkirakan IHSG pada perdagangan hari ini akan berada dalam rentang support 5.700 dan resistance 5.750.

Sementara, Analis Erdhika Elit Sekuritas Hendri Widiantoro menilai kenaikan suku bunga acuan BI berpotensi membuat saham emiten properti tertekan sehingga ikut berdampak negatif terhadap IHSG.

“Indeks pada perdagangan hari ini diperkirakan bergerak sideways cenderung melemah pada rentang pergerakan 5.796-5.870,” papar Hendri dalam risetnya.

Dengan begitu, Hendri menyarankan pelaku pasar untuk selalu waspada dengan pergerakan indeks, khususnya kepada trader jangka pendek.

Hit and run untuk trading jangka pendek,” imbuh Hendri.

Pada pekan lalu, IHSG tertekan hingga 2,91 persen ke level 5.783. Hal itu membuat nilai kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia (BEI) turun 2,68 persen menjadi Rp6.466 triliun. (cnn/ans)