SHARE

KURVAcoid, Serang – Gubernur Banten Wahidin Halim dan Wakil Gubernur Banten Andika Hazrumy menggelar rapat bersama para Kepala OPD (organisasi perangkat daerah) Pemprov Banten tentang perkembangan pekerjaan revitalisasi Keraton Kesultanan Banten yang sebelumnya disebut sebagai kawasan Banten Lama, Kamis (31/1) malam.

Yang menarik rapat kali ini dilakukan secara lesehan di plaza MAsjid Agung Banten hasil revitalisasi dengan didahului shalat Isya berjamaah di Masjid Agung Banten.

Usai shalat Isya, Wahidin yang mengenakan baju muslim dipadu dengan sarung, memulai rapat dengan memimpin pembacaan doa. Kemudian Wahidin juga meminta sejumlah para kepala OPD yang hadir untuk bergantian memimpin doa.

Selain berbeda karena lebih bernuansa acara pengajian, suasana rapat juga menjadi lebih santai karena digelar bukan di dalam ruangan, melainkan di pelataran masjid yang kini sudah disulap menjadi mirip seperti di pelataran Masjid Nabawi di Madinah dengan keberadaan sejumlah bangunan payung besar.

Sebagai Koordinator Revitalisasi Keraton Kesultanan Banten, Wakil Gubernur Banten Andika Hazrumy menyampaikan laporannya dalam rapat koordinasi di plaza Masjid Agung Banten, Kamis (31/1) malam.

Setelah mendengar laporan Andika selaku koordinator revitalisasi, Wahidin kemudian mengaku ingin agar Keraton Kesultanan Banten dapat memfasilitasi peziarah dari luar Banten yang ingin menginap karena melakukan ritual ibadah malam hari di Masjid Agung Banten.

“Jadi ke depan saya ingin supaya rumah-rumah warga di sekitar sini dibantu agar bisa jadi home stay. Kalau rumahnya tidak layak, ya kita bantu renovasi, kita buatkan WC, kamar mandi dan lainnya agar bisa menerima peziarah yang menginap,” kata Wahidin.

Lebih jauh Wahidin juga mengaku ingin agar kawasan Keraton Kesultanan Banten dapat menjadi sebuah tempat wisata religi yang nyaman dan terbuka bagi para peziarah.

“Jadi kayak plaza ini, kenapa ini sampai sekarang belum dibuka untuk umum? Saya ingin agar ini segera dibuka, biar orang yang memang ke sini karena ingin melihat wajah baru Banten Lama bisa merasakan dan menikmati perubahan-perubahannya” kata Wahidin.

Permasalahan PKL dan parkir

Dalam rapat tersebut, Kepala Satpol Pamong Praja Pemprov Banten M Basri mengusulkan agar para pedagang yang selama ini berdagang di Terminal Sukadiri tidak buru-buru dipindahkan ke kawasan PKL (pedagang kaki lima) yang disediakan Pemkot Serang. Menurut Basri lokasi PKL yang baru tersebut letaknya sangat jauh dari kawasan masjid dan keraton, sehingga para pedagang yang dipindahkan dari Terminal Sukadiri, lebih memilih untuk kucing-kucingan dengan Satpol PP.

“Dari pada pindah ke lokasi yang disediakan, akhirnya mereka malah merangsek berdagang di sekitar mesjid dan keraton ini,” kata Basri.

Sementara itu, Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Pemprov Banten Deden Apriandi mengusulkan agar Pemprov Banten dan Pemkot Serang selaku pengelola kawasan hasil revitalisasi tersebut selanjutnya untuk juga memikirkan tentang pembangunan sosial, ketimbang melulu memikirkan tentang pembangunan fisiknya.

“Jadi saya mengusulkan agar kita juga melakukan kegiatan-kegiatan atau program-program yang sifatnya melakukan penyadaran dan pemberdayaan masyarakat. Karena mungkin mereka yang sudah berpuluh tahun terbiasa dengan keadaan Banten Lama sebelumnya, belum tentu bisa menerima Keraton Kesultanan Banten hasil revitalisasi ini,” kata Deden.

Usai rapat koordinasi, Gubernur Banten Wahidin Halim dan Wakil Gubernur Banten Andika Hazrumy meninjau lokasi para pedagang di kawasan Keraton Kesultanan Banten, Kamis (31/1) malam.

Usai rapat, Wahidin yang didampingi Andika beserta rombongan kemudian melakukan peninjauan ke sejumlah lokasi di sekitar kawasan masjid dan keraton. Dalam peninjauannya, Wahidin memang mendapati para PKL berdagang secara acak di lokasi-lokasi di sekitar masjid dan keraton yang sebetulnya bukan peruntukkannya.

“Ya nanti (ditertibkan), yang penting sekarang jaga kebersihan dulu aja ya. Awas kalau pada ngotorin dagangnya!” kata Wahidin yang disambut teriakan “Siap Pak!” dan “Beres Pak!” dari para pedagang.

Pantauan di lapangan juga menunjukkan, kawasan bekas Keraton Surosowan yang sudah ditata menjadi ruang terbuka hijau malah banyak dipenuhi oleh kendaraan, roda dua terutama, yang parkir baik secara sembarangan maupun di lokasi-lokasi parkir liar. (dham/ans)