SHARE

KURVAcoid, Jakarta – Oktober dua tahun lalu, boleh jadi bulan yang paling membahagiakan bagi Presiden Joko Widodo. Sebab, di era pemerintahannya lah Indonesia didapuk menjadi tuan rumah Pertemuan Tahunan IMF-World Bank 2018, pertemuan bertaraf internasional para menteri keuangan dan gubernur bank sentral, CEO, dan ekonom dari 189 negara di dunia.

Pertemuan ini menjadi istimewa karena pertama kalinya digelar di Indonesia. Indonesia, sekaligus menjadi negara keempat di Asia yang menjadi tuan rumah IMF-World Bank, setelah Filipina pada 1976 silam, Thailand pada 1991, dan Singapura pada 2006 lalu.

Menariknya, kesempatan ini mungkin datang lagi 567 tahun ke depan. Lihat lah, 189 negara anggota mengantre untuk menjadi tuan rumah. Padahal, pertemuan tahunan ini hanya digelar di luar markasnya, Washington DC, Amerika Serikat, setiap tiga tahun sekali.

Jangan heran, penunjukkan tuan rumah tidak sembarangan. Pada 2014 lalu, Pemerintah Indonesia harus terlebih dahulu menyerahkan proposal dan menyatakan minatnya. Lalu, melewati proses bidding yang memakan waktu tidak kurang dari tujuh bulan, sebelum akhirnya voting negara anggota memenangkan Indonesia.

Indonesia kala itu bersaing ketat dengan Mesir dan Senegal, dua negara dari Afrika yang keok terpilih menjadi tuan rumah. Setelah Indonesia terpilih, baru lah pada Maret 2017 lalu, pemerintah buru-buru membentuk panitia nasional dan menetapkan Bali sebagai wajah yang akan dipamerkan kepada belasan ribuan delegasi dunia.

Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan alasan Indonesia dipilih sebagai tuan rumah, yaitu sebagai negara dengan jumlah kelas menengah terbanyak (middle-income country) yang menjadi salah satu model keberhasilan pembangunan.

Ketua Panitia Nasional Luhut Binsar Panjaitan juga mengungkapkan bahwa terpilihnya Indonesia sebagai tuan rumah menunjukkan tingginya kepercayaan dunia internasional terhadap keamanan Indonesia, stabilitas politik, dan keberhasilan ekonomi.

Kemampuan dalam menggelar acara bertaraf dunia juga tak perlu diragukan, mengingat pertemuan tingkat dunia, seperti Konferensi Asia Afrika pernah digelar pada 1955 silam, Apec 2013, dan IDB dan WIEF 2016 lalu.

“Kami sudah siapkan semua, seperti hotel, tempat acara, kantor, keamanan, hingga transportasi,” ujar Luhut belum lama ini.

Kesiapan infrastruktur pun, lanjut Luhut, telah dilakukan sebagai penunjang suksesnya kegiatan yang akan dihadiri oleh 15 ribu peserta dari 189 negara di dunia.

“Akselerasi infrastruktur yang telah dilakukan nantinya tidak hanya akan menguntungkan para delegasi dan peserta, tetapi juga masyarakat,” imbuhnya.

Misalnya, ia menyebutkan perpanjangan runaway Bandara I Gusti Ngurah Rai, underpass, termasuk alat penunjang seperti komputer, jaringan internet, dan meja-kursi yang akan dihibahkan ke beberapa daerah usai acara selesai.

Mendulang untung

Untuk menyukseskan acara tersebut, pemerintah menganggarkan Rp810 miliar. Uang yang tidak sedikit, memang. Namun, modal tersebut tidak lebih besar dibandingkan penyelenggaraan di Singapura pada 2006 lalu yang sekitar Rp994,4 miliar, Turki Rp1,2 triliun, Tokyo Rp1,1 triliun, dan Peru Rp2,29 triliun.

Lagipula, Luhut menuturkan Rp300 miliar dari dana yang dianggarkan pemerintah akan kembali ke kantong negara dalam bentuk Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP).

“Hingga saat ini, anggaran yang sudah digunakan masih Rp566 miliar. Tetapi, mungkin, yang kami gunakan sekitar Rp260-an miliar. Sisanya akan balik lagi lewat PNBP,” terang dia.

Tidak hanya itu, ia memperkirakan investasi sekitar US$2 miliar – US$3 miliar atau setara Rp43 triliun bisa ditarik melalui acara tersebut. Misalnya, untuk proyek pengolahan energi sampah maupun jalan.

Bagi Bali, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Bambang Brodjonegoro merinci Pertemuan Tahunan IMF-World Bank nanti juga akan mengerek ekonomi provinsinya dari 5,9 persen menjadi 6,54 persen.

Mimpi pertumbuhan ekonomi Bali 6,54 persen itu akan diperoleh dari sektor konstruksi, 0,12 persen sumbangsih perhotelan, 0,50 persen dari makanan dan minuman, dan 0,21 persen dari sektor lain-lain. (cnn/ans)