SHARE

KURVAcoid, Jakarta – Kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) selama tahun 2018 masih tertinggal 162 poin dibandingkan dengan penutupan tahun 2017. Meskipun demikian, performa indeks sangat menggembirakan lantaran berada di posisi terbaik ke-2 di kawasan Asia Pasifik.

Mengacu pada kinerja emiten-emiten yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) sejak awal tahun 2018, terdapat sepuluh saham yang kinerjanya paling buruk jika dibandingkan dengan saham lainnya. Berikut data dan ulasannya:

(Sumber: Bursa Efek Indonesia)

1. PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR)
Emiten induk dari konglomerasi Grup Bakrie ini berada di posisi pertama dengan penurunan 90 persen dari nilai harga sahamnya tahun lalu. BNBR mengalami penurunan 430 poin dengan berada di posisi paling buncit, yaitu Rp50 per saham.

2. PT Sidomulyo Selaras Tbk (SDMU)
Emiten yang bergerak di industri jamu tersebut berada di posisi kedua dengan ketertinggalan 89 persen dari capaian harga sahamnya tahun lalu. SDMU kehilangan 420 poin. Pada perdagangan terakhir, SDMU juga berada di posisi terendah harga saham yang diperbolehkan, yaitu Rp50 per saham.

3. PT Trikomsel Oke Tbk (TRIO)
Emiten berkode TRIO berada di posisi ketiga dengan kinerja terburuk sepanjang tahun ini. Secara persentase sahamnya turun 88 persen. Emiten yang bergerak di bidang pemasaran ritel elektronik tersebut berada di posisi Rp236 per saham.

4. PT Dwi Guna Laksana Tbk (DWGL)
Emiten berkode DWGL berada di posisi keempat dengan penurunan 88 persen. Secara poin, DWGL mengalami penurunan 533 poin dari posisi penutupannya tahun lalu di Rp605 per saham. Pada perdagangan terakhir, DWGL berada di posisi Rp72 per saham.

5. PT Marga Abhinaya Abadi Tbk (MABA)
Emiten berkode MABA berada di posisi kelima dengan penurunan 81 persen. Secara poin, MABA mengalami penurunan 980 poin dari posisi penutupannya tahun lalu di Rp1.200 per saham. Posisi harga saham MABA pada penghujung tahun berada di Rp220 per saham.

6. PT Cahayasakti Investindo Tbk (CSIS)
Emiten berkode CSIS berada di posisi keenam dengan penurunan 78 persen. Secara poin, CSIS mengalami penurunan 1.184 poin dari posisi harga sahamnya tahun lalu di Rp1.500 per saham. Pada perdagangan terakhir, CSIS berada di posisi Rp316 per saham.

7. PT Panasia Indo Resources Tbk (HDTX)
Emiten berkode HDTX berada di posisi ketujuh dengan penurunan 71 persen. Secara poin, HDTX kehilangan 318 poin dari posisi awal tahun lalu di Rp444 per saham. Pada perdagangan terakhir, HDTX berada di posisi Rp126 per saham.

8. PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA)
Emiten berkode MPPA berada di posisi kedelapan dengan penurunan 71 persen. Secara poin, emiten yang bergerak di industri ritel tersebut kehilangan 374 poin dari posisi sahamnya tahun lalu di Rp 526 per saham. Pada perdagangan terakhir, MPPA berada di posisi Rp152 per saham.

9. PT Campina Ice Cream Industry Tbk (CAMP)
Emiten berkode CAMP tersebut berada di posisi kesembilan dengan penurunan 70 persen. Emiten es krim lokal tersebut tahun ini kehilangan 839 poin dari posisi sahamnya tahun lalu di Rp1.185 per saham. Pada perdagangan terakhir, CAMP berada di posisi Rp346 per saham.

10. PT Intan Baruprana Finance Tbk (IBFN)
Emiten berkode IBFN berada di posisi kesepuluh dengan penurunan 70 persen. Secara poin, emiten yang bergerak di bidang jasa keuangan tersebut kehilangan 633 poin dari posisi pembukaan awal sahamnya tahun ini di harga Rp897 per saham. Pada perdagangan terakhir, IBFN berada di posisi Rp264 per saham. (cnbc/ans)