SHARE

KURVAcoid, Cilegon Manajemen PT Krakatau Steel (Persero) Tbk memperkirakan membaiknya harga baja masih berlanjut di tahun 2018  terutama untuk Hot Rolled Coil (HRC) berada dalam kisaran US$468 sampai US$700 per ton.

“Membaiknya harga baja internasional telah memberikan pengaruh positif terhadap kinerja keuangan perusahaan di tahun 2017. Diperkirakan  kondisi demikian masih akan berlanjut di 2018,” kata Direktur Utama PT Krakatau Steel (Persero) Tbk, Mas Wigrantoro Roes Setiyadi di Hotel Royal Krakatau, Kota Cilegon, Banten, Selasa.

Menurut Mas Wigrantoro, kebijakan pemerintah Tiongkok sebagai produsen baja terbesar dunia untuk mengurangi pabrik yang tidak ramah lingkungan, telah membuat harga baja dunia yang sempat jatuh kembali normal, bahkan mengalami kenaikan.

Belajar dari pengalaman di tahun-tahun sebelumnya, Mas Wigrantoro telah meminta  kepada pemerintah untuk tetap mewaspadai dan memantau praktek dagang tidak “fair” terhadap produk baja asal Tiongkok ke depannya.

Di sisi lain perlunya memperbanyak ikatan perjanjian jangka panjang dengan konsumen (long term supply agreement/ LTSA) agar tidak rentan apabila sewaktu-waktu terjadi perubahan harga, kata Mas Wigrantoro.

Lebih jauh Direktur Pemasaran PT Krakatau Steel, Purwono Widodo menambahkan, pengenaan bea masuk baja dan aluminium oleh AS dikhawatirkan akan membuat Tiongkok melempar produk bajanya terutama baja paduan ke Asia termasuk Indonesia.

“Kondisi demikian akan membuat baja paduan asal Tiongkok yang memang tidak kena bea masuk akan membanjiri pasar Indonesia, praktek tidak fair ini yang harus diantisipasi,” kata dia.

Purwono berharap pemerintah dapat memberikan perlindungan dengan menegakan peraturan terkait peningkatan penggunaan produksi dalam negeri (P3DN) dan tingkat komponen dalam negeri (TKDN).

Sedangkan Direktur Keuangan PT Krakatau Steel, Tambok P. Setyawati S mengatakan, dengan naiknya harga baja tersebut membuat pendapatan perusahaan naik 7,76 persen di tahun 2017 menjadi US$1,5 miliar, sehingga membuat laba operasi ikut naik 10 kali lipat lebih menjadi US$50,74 juta dari tahun sebelumnya US$4,4 juta.

Kondisi demikian membuat rugi bersih perusahaan terus membaik kalau di tahun 2015 masih US$320 juta, di 2016 US$171 juta, maka di 2017 tinggal US$81,7 juta, kami optimistis di 2018 kinerja keuangan semakin membaik seiring dengan membaik harga baja dan efisiensi yang dijalankan perusahaan, jelas Tambok.

Mas Wigrantoro menambahkan progress fisik pembangunan pabrik baja canai panas (hot strip mill) 2 telah mencapai 58 persen lebih per akhir Februari 2018, dengan beroperasinya pabrik ini yang dijadwalkan triwulan 2019 akan menambah kapasitas produksi HRC 1,5 juta ton per tahun.

Dengan rampungnya pabrik ini juga akan membuat PT Krakatau Steel dapat meningkatkan kapasitas produksi HRC disamping menghemat penggunaan bahan baku sampai dengan US$50 per ton.

Terkait dengan pengembangan usaha, Mas Wigrantoro juga menyampaikan rencana IPO PT Krakatau Bandar Samudra, rencana perluasan Rumah Sakit Krakatau Medika, dan perluasan Hotel Royal Krakatau, serta tahap perampungan jalur pipa Cipasauran yang diharapkan meningkatkan kapasitas PT Krakatau Tirta Industri dalam memasok kebutuhan air bersih sebesar 600 liter per detik. (Antara/Ans)