SHARE

KURVAcoid, Jakarta – Ada 2 permasalahan yang dipandang sebagai malaikat pencabut nyawa bagi ekonomi Indonesia. Permasalahan ini bahkan sudah ada dan tak kunjung dipecahkan selama puluhan tahun.

Guru besar ilmu ekonomi sekaligus peneliti senior INDEF Didik J Rachbini menjelaskan, salah satu permasalahan yang bisa menjadi malaikat pencabut nyawa adalah defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD). Permasalahan ini bahkan sudah terbukti menjadi penyebab terjadinya krisis ekonomi di 1998.

Didik menjelaskan, saat terjadi krisis ekonomi global di 1998 ada 5 negara yang terdampak paling besar, yakni Thailand, Indonesia, Filipina, Malaysia dan Korea. Kelompok negara itu terdampak lantaran memiliki permasalahan defisit transaksi berjalannya terhadap PDB.

“5 negara itu yang krisis karena mereka alami defisit neraca berjalan. Artinya devisa yang dia peroleh tidak cukup membiayai kebutuhan-kebutuhan dia baik impor ataupun ekspor,” tuturnya dalam cara diskusi di Jakarta, Selasa (6/11).

Namun setelah 20 tahun, beberapa negara dari kelompok negara itu menunjukkan perbaikan. Thailand bahkan transaksi berjalannya sudah surplus hingga 8 persen terhadap PDB.

“Relatif sudah tidak masalah, Thailand surplus 8 persen, Korea juga sudah 4,7 persen, Malaysia 3,3 persen hanya Indonesia yang masih defisit 2,7 persen,” ujarnya.

Pencabut nyawa yang kedua adalah permasalahan utang. Total utang pemerintah hingga September 2018 mencapai Rp 4.416,37 triliun. Angka itu naik Rp 53,18 triliun dari posisi Agustus 2018 sebesar Rp 4.363,19 triliun.

“Yang dibicarakan sekarang hanya utang pemerintah dan hampir separuh utang pemerintah itu portfolio asing dan implikasi pembayaran dengan mata uang asing. Tapi itu juga tidak hitung utang swasta, belum lagi BUMN. Jadi gabungan utang pemerintah, swasta, BUMN itu cukup besar, kalau tidak hati-hati bisa jadi malaikat pencabut nyawa pada ekonomi kita,” tutupnya. (detik/ans)