SHARE

KURVAcoid, Jakarta – Bisnis properti sepertinya masih menjadi primadona. Itu sebabnya, beberapa badan usaha milik negara (BUMN) tampak semakin tekun berbisnis properti.

Sebut saja PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI), BUMN sektor agro industri, farmasi dan alat kesehatan. Saat ini RNI tengah merampungkan proyek perkantoran di jalan MT Haryono, Jakarta Timur.

Direktur Utama PT RNI, B. Didik Prasetyo mengatakan, proyek itu bermula pada saat kedua perusahaan sama-sama membutuhkan kantor. "Jadi kita membangun gedung bersama, namanya Waskita Rajawali Tower. Saat itu kita kebetulan sama-sama ingin punya kantor, RNI ada lahan, nah dari situ awal mula ketemunya," ungkap Didik, akhir pekan ini.

Proyek tersebut mulai digarap Agustus tahun lalu dan ditargetkan rampung kuartal I-2019. Proyek perkantoran bertajuk Waskita Rajawali Tower ini dibangun di atas lahan seluas kurang lebih 7.400 meter persegi (m) dengan 17 lantai.

Nantinya, lima lantai di gedung perkantoran itu akan dimiliki RNI, selebihnya milikWaskita Realty. Dari lima lantai yang akan dipakai RNI akan ada satu lantai yang digunakan untuk kepentingan komersial.

Dengan memiliki ruang perkantoran, RNI bisa menyewakan lagi untuk memperoleh pendapatan berulang alias reccurring income. "Selama ini kontribusi bisnis properti masih sekitar nol koma sekian persen. Baru kelihatan hasilnya di 2019," ungkap Didik.

RNI juga memiliki rencana mengembangkan proyek mixed used di daerah Pancoran, Jakarta. RNI saat ini tengah menanti proses perizinan selesai.

PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) juga tak mau kalah. BUMN ini akan memanfaatkan lahan eks sentra telepon otomat (STO) sebagai modal berbisnis properti. "Kita punya 1.200 STO di seluruh Indonesia, ini teknologi lama. Sekarang kebutuhan kita akan STO sedikit sekali," terang Harry N. Zen, Direktur Keuangan Telkom.

Luas satu STO antara 2.000 m sampai 3.000 m. Menurut dia, STO bisa dijadikan data center atau area komersial, sepeti co-working space atau bangunan lain. Salah satu STO yang sudah berubah fungsi adalah STO Semanggi Dua yang kini menjadi Telkom Landmark Tower di Gatot Subroto, Jakarta Selatan.

PT Timah Tbk juga memiliki bisnis properti melalui PT Timah Karya Persada Properti. M. Arief Asj'ari, Direktur Utama PT Timah Karya Persada Properti, mengatakan, selama ini kontribusi bisnis anak usaha itu masih sekitar Rp11 miliar. Tahun 2018, perusahaan ini menargetkan bisa menyumbang laba ke ke TINS sekitar Rp31 miliar.

Untuk mencapai target tersebut, Timah Karya Persada Properti menggarap proyek rumah tapak di Bekasi Timur yang dilego seharga Rp400 juta per unit dan klaster townhouse di Tangerang yang dijual mulai Rp1,3 miliar per unit. "Kami optimistis target tersebut tercapai, karena permintaannya ada," ujar Arif.

Perusahaan ini mengalokasikan dana Rp350 miliar untuk mengembangkan proyek di Bekasi Timur tersebut. Perusahaan ini juga melakukan studi untuk pembangunan hotel di beberapa lokasi di tanah milik PT Timah di Pangkalpinang, Belitung, maupun di Jakarta sendiri. Namun, proyek tersebut belum digarap tahun ini. "Kita lihat cash flow dulu," ujarnya.

Sedangkan Pertamina berbisnis properti melalui PT Patra Jasa. Direktur Utama PT Patra Jasa M Haryo Yunianto mengatakan, pihaknya bertransformasi menjadi perusahaan property development, melalui Pilar Bisnis Patra Land. Patra Jasa sudah mengakuisisi dua proyek apartemen yang kini sudah dipasarkan. (*)