SHARE

KURVAcoid, Jakarta – Bank Indonesia melalui surveinya menyebutkan rata-rata suku bunga kredit perbankan sebesar 11,3 persen hingga akhir Desember 2017, atau menunjukkan penurunan tipis 15 basis poin.

Penurunan tersebut diperngaruhi dampak dari penyesuaian suku bunga acuan 7-Day Reverse Repo Rate Bank Sentral yang sejak akhir 2015 hingga Oktober 2017 turun 200 basis poin. Suku bunga 7-Day Reverse Repo Rate saat ini sebesar 4,25 persen. 

"Sedangkan suku bunga simpanan berjangka dengan tenor 3, 6, dan 12 bulan yang masing-masing tercatat sebesar 6,11 persen, 6,61 persen, dan 6,8 persen, turun dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 6,17 persen, 6,63 persen, dan 6,82 persen," tulis BI dalam Analisis Uang Beredar.

Sedangkan suku bunga simpanan tenor 1 dan 12 bulan mengalami peningkatan dari 5,8 persen dan 6,72 persen menjadi 5,81 persen dan 6,73 persen pada Desember 2017. 

Di sisi lain, kredit yang disalurkan perbankan pada akhir Desember 2017 tercatat Rp4.763,2 triliun atau tumbuh 8,2 peren (tahun ke tahun/yoy). 

Namun data kredit tersebut tidak termasuk instrumen keuangan yang dipersamakan dengan pinjaman, seperti surat berharga (Debt Securities), tagihan akseptasi (Banker?s Acceptances), dan Tagihan Repo. Selain itu, kredit yang diberikan tidak termasuk kredit yang diberikan oleh kantor Bank Umum yang berkedudukan di Luar Negeri, dan kredit yang disalurkan kepada Pemerintah Pusat dan Bukan Penduduk

Kredit tersebut menjadi salah satu faktor pertumbuhan likuiditas perekonomian atau uang beredar dalam arti luas (M2). Uang beredar dalam arti luas teratat melambat pada Desember 2017 atau sebesar Rp5.418,5 triliun. Angka itu tumbuh 8,3 persen (yoy) atau lebih rendah dibandingkan November 2017 yang tumbuh 9,3 persen (yoy). 

Selain kredit perbankan, faktor lain yang mempengaruhi uang beredar adalah kontraksi operasi keuangan pemerintah pusat (Pempus) yang tercermin dari pertumbuhan tagihan bersih Pempus sebesar -5,7 persen (yoy) pada Desember 2017, lebih rendah dari 1,9 persen (yoy) pada November 2017. (*)