SHARE

KURVAcoid, Jakarta – Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2019 mendatang hanya akan mencapai 5,2 persen. Proyeksi tersebut lebih rendah dari perkiraan pemerintah yang mencapai 5,3 persen.

Hariyadi Sukamdani, Ketua Umum Apindo mengatakan proyeksi tersebut dibuat dengan mendasarkan ketidakpastian ekonomi global dan politik di dalam negeri. Kondisi ekonomi global yang belum stabil dan situasi politik dalam negeri saat pelaksanaan Pemilihan Umum Legislatif dan Pemilihan Presiden 2019 akan membuat pelaku pasar dan usaha cenderung bersikap menunggu.

Aksi tunggu tersebut sedikit akan membuat geliat ekonomi di dalam negeri meredup. Hariyadi mengatakan aksi tunggu akan membuat pelaku usaha atau investor mengerem ekspansi usaha mereka terutama pada kuartal pertama tahun depan. Pelaku usaha akan melihat kondisi politik jelang pilpres berlangsung.

“Untuk politik, kami kan belum tahu hasilnya, komposisi menteri-menteri ekonomi siapa saja, jadi mempengaruhi penilaian kami. Mungkin di dalam negeri belum akan begitu optimal,” papar Hariyadi di Jakarta, Rabu (5/12).

Hariyadi menyebut tren investasi 2019 akan dipengaruhi kondisi politik dalam negeri. Jika kondisi politik pada kuartal I 2019 stabil, kondisi tersebut akan memancing investor.

Investor yang merasa nyaman akan nafsu untuk mengembangkan usahanya. “Kepercayaan pelaku usaha ditentukan pada kuartal I 2019,” tutur Hariyadi.

Selain faktor politik, Hariyadi mengatakan investasi tahun depan juga akan dipengaruhi kemudahan investor dalam menjalankan usaha. Pihaknya menyoroti kemudahan berusaha yang dilakukan pemerintah melalui program perizinan daring terpadu (Online Single Submission/ OSS). Menurutnya, aturan perizinan pemerintah pusat dan daerah masih membuat pelaku usaha bingung dengan implementasi OSS.

“Kalau dibiarkan berlarut-larut ini akan menyulitkan Indonesia untuk menarik investasi baru dari dalam maupun luar negeri,” tegas Hariyadi.

Sementara dari global sendiri terdapat perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dengan China yang masih berlanjut. Meski AS dan China sudah sepakat untuk tidak mengenakan tarif impor tambahan selama setidaknya 90 hari, Hariyadi tak yakin itu bisa menjadi akhir jalan cerita dari kisah perang dagang kedua negara tersebut.

“Kami semua tidak tahu kondisinya seperti apa kalau masih terjadi ketegangan,” kata Hariyadi.

Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping bersepakat selama 90 hari itu digunakan untuk membahas solusi dari sengketa dagang antara AS dan China. Episode perang dagang ini menjadi perhatian dunia karena menekan perdagangan global dan memicu kekhawatiran akan terjadinya perlambatan laju pertumbuhan ekonomi. (cnn/ans)